Mengapa saya Kuwei, tetapi mereka Rumansara, Rawai, Sembai, dan Maniambo?

 

Foto

Anggota Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Asal Kampung Manatanen desa Roswari (IPEMAROS)

Wilayah Studi III Manokwari 

  

Belajar Marga, Supaya Kenal Keluarga 

Kuwei, Rumansara, Rawai, Paai, Sembai, Maniambo, Arampi, Sroyer, Kapisa, Kadiwaru, Aiwui, Kaisiri, Rumbiak, Arwam, dan Horota merupakan nama-nama keluarga di kampung Artanen saat ini. Setiap Marga di Muni Tanen memiliki sejarah panjang dan diperlukan kajian  untuk menjabarkannya. 

Penting bagi pelajar dan mahasiswa asal Muni Tanen untuk mengenal setiap nama keluarga, arti dari setiap nama keluarga, asal-usul dan hubungan kekerabatan di Muni Tanen. 

Marga dan Kewajiban yang tidak dapat ditolak

Kami sering berpikir .. Mengapa nama-nama keluarga harus dipelajari? Jawabannya sederhana saja. Karena kami tidak tahu siapa yang memberikan nama keluarga kepada nenek moyang kami, kapan mereka memakai nama keluarga pertama kali, mengapa mereka menggunakannya dan mengapa kami harus menggunakan nama keluarga yang sama. 

Beberapa alasan klasik adalah agar kami tahu darimana kami berasal dan apa saja yang menjadi hak-hak kami di negeri nenek moyang kami. Entah itu tanah, pohon, sumber daya alam, atau yang paling penting dari semuanya adalah kami dapat mengerti bahwa "kami tidak sendiri di dunia ini karena kami memiliki keluarga".

Sebagai manusia yang bebas dan demokratis, kami harusnya memiliki atau diberikan pilihan untuk menentukan nama sesuai keinginan kami. Kenyataannya, kami dilahirkan, dibaptis sesuai tradisi Gereja Protestan dan didaftarkan ke pemerintah dengan nama keluarga yang diturunkan secara patrilineal. Beberapa diantara kami mewarisi nama keluarga secara matrilineal karena alasan-alasan tertentu. 

Tua-tua adat dan orang tua kami tidak mendaftarkan semua nama-nama marga di kampung; kemudian mereka memberikan kesempatan kepada kami ketika dewasa untuk memilih dan menentukan "marga mana yang saya mau, saya bisa gunakan atau pakai. Kapan-kapan kalau saya tidak suka, saya bisa ganti". 

Belajar atau Mewariskan Marga tanpa Memahaminya

Kami tidak dapat menolak marga yang diberikan orang tua. Tetapi kami bisa menolak untuk mempelajarinya atau membiarkannya berlalu dan terwariskan begitu saja tanpa penjelasan-penjelasan yang berarti. 

Ada orang dari marga lain, orang-orang yang lebih tua dari kami. Mereka sering mengunjungi kami lalu berkata demikian "kamu itu margamu ini, margamu itu, margamu ini dan itu". Jika "marga" yang mereka sampaikan adalah sebuah kebenaran, mengapa orang-orang demikian tidak menyampaikannya ke nenek moyang kami yang menggunakan nama keluarga kami dan telah mewariskannya?. 

Kami lahir pada generasi yang berbeda, yaitu generasi yang belum memahami secara menyeluruh tentang marga kami. Generasi kami diperhadapkan dengan banyaknya pilihan pengetahuan yang menurut kami lebih baik dan bermanfaat daripada mempelajari marga kami sendiri. Apalah arti sebuah marga? Dengan demikian, kami menjadi orang-orang yang kalah telak dan tidak dapat mengklarifikasi hasutan dan pandangan mereka. 

Di era Globalisasi, masa dimana nilai jual tanah sangat tinggi, tuntutan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan terus berkembang dengan nilai yang semakin tinggi serta berubah dari waktu ke waktu, manusia-manusia yang senang menghasut dengan mewacanakan "marga" dapat memanfaatkan segala ikhtiar dan cara-cara untuk mengelabui sesama saudara. Mereka dapat dengan mudah menggunakan situasi "krisis pengetahuan antar generasi disertai klaim dan diksi "ketidaktahuan"" untuk memanipulasi sistem kekerabatan bagi keuntungan mereka sendiri dan kelompoknya. 

Di luar sana, bahkan di dalam kelompok suku kita sendiri, terdapat banyak individu dan kelompok yang ingin berkuasa terhadap kita. Kajian-kajian antropologi oleh antropolog Universitas Papua, Manokwari, seperti Huwae M.A dan Ronsumbre A. 2022 dalam jurnal berjudul "Identity, Power, Myth Contestation, and Land Control in Manokwari, West Papua, Indonesia" dapat menjadi acuan bagi kita untuk merenung kondisi yang demikian. Terdapat praktik-praktik kudeta pada beberapa kampung dan kota antar marga orang-orang Papua menggunakan wacana dan cerita. 

Oleh karena itu, kita perlu mengenal marga dengan segala wacana dan kisah yang melatarbelakanginya agar agar kita memiliki dasar pengetahuan untuk berdiri menjaga hidup kita dan kebersamaan keluarga tanpa dipengaruhi oleh kelompok lain yang bukan "tidak berakhlak" melainkan berakhlak tidak benar. Bagi kami, ikhtiar dan niat semacam ini hanyalah upaya perpecahan. 

Rencana Kajian tentang Marga 

Mengingat pentingnya pengetahuan tentang marga, maka marga perlu dikaji. Pengkajian marga di Muni Tanen menjadi tugas pelajar dan mahasiswa asal kampung Artaneng. Anggota Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Asal Kampung Manatanen desa Roswari di Wilayah Studi III Manokwari merencanakan sebuah kajian marga di Muni Tanen. Pertemuan kedua dari beberapa pertemuan dengan topik yang sama dilakukan pada hari Sabtu tanggal 06 September 2025 di Teras Asrama Unit Veteran, Universitas Papua, Manokwari.

Warisan Kebudayaan 

Marga (Nama Keluarga) telah menjadi bagian dari warisan kebudayaan. Di Muni Tanen, setiap anak yang baru lahir akan diberi pangkat atau dinobatkan dengan gelar 'nama keluarga". Entah itu Kuwei, Rawai, Sembai, Maniambo, Pai, Rumansara, Kaisiri, Kapisa, Sroyer, Arampi, Kadiwaru, Arwam dan Horota. Marga-marga dapat berasal dari rumah besar atau merupakan rumah besar itu sendiri yang terdiri dari beberapa sub-marga.

Beberapa antropolog yang pernah melakukan riset tentang "sistem kekerabatan dan kepimpinan tradisional (Kinship)" seperti Mansoben, et.al, mengistilahkan marga dalam suku Biak sebagai Rum atau Rumah besar, disebut juga keret, yang di dalamnya terdapat sub-keret. Sub-Keret dikenal dengan sebutan Sim.

Masyarakat Yawa di Muni Tanen menjalankan sistem kekerabatan yang pada dasarnya sama. Kami menyebut rumah besar dengan istilah Yawar dan sub-marga dengan istilah Yavarugav. Sementara itu, kelompok paling besar dari Yawar dan Yavarugav adalah Vatan. Vatan diartikan sebagai manusia. Penutur bahasa Yawa menggunakan kata 'vatan' untuk mendefinisikan kelompok manusia dari suku, kampung, dan komunitas tertentu, misalnya, vatan-o urisuvuri (orang-orang Rosbori), vatan-o ivyat (orang-orang Biak), vatan-o aubamjirum (orang-orang Ambaidiru) atau vatan-o oropan (orang-orang Waropen).

Vatano Muni Tanen

Vatano muni tanen terbagi menjadi empat kelompok. Pembagian kelompok dibuat oleh tua-tua adat (anene) yang hidup sebelum generasi kami. Kelompok pertama terdiri dari marga Kuwei, Rumansara, Rawai, Paai. Kedua, Kelompok Sembai-Maniambo. Ketiga, Kelompok Biak-Waropen dan keempat adalah Kelompok Raimbawi-Pom. Kelompok-kelompok tersebut dibagi berdasarkan asal-usul dan hubungan sepupu dekat.

Berdasarkan nama marga, kelompok Pertama dan kedua dibagi kedalam dua kategori yaitu kategori asli Yawa dan kategori campuran.  Kelompok ketiga dan keempat dikategorikan sebagai marga non-Yawa. Dengan demikian, terdapat tiga kategori marga di Muni Tanen yaitu marga Yawa, marga Campuran dan marga Non-Yawa.  

Yavar

Yavar atau Yawar pada kelompok pertama adalah Kuwei yang didalamnya terdapat kamar Rumansara, Rawai dan Paai. Rumah Besar Kedua adalah Sembai-Maniambo. Yawar bagi marga non Yawa ditentukan berdasarkan sistem kekerabatan pada tempat asal usulnya seperti Biak, Waropen dan Pom.  Atau dapat diajukan dan disesuaikan dengan sistem Yawar dalam model kekerabatan Yawa Muni Tanen sesuai garis matrilineal "perempuan" atau perkawinan.

Yavarugav

Kuwei terdiri dari beberapa Yavarugav yaitu Kuwei (Asli), Kuwei Manavugampat Turunat Yavandare Vuiny, Kuwei Rumansara Manapakami, dan Kuwei Rumansara Nyangkuv. Rawai merupakan yavarugav tersendiri, kamar tengah, dari rumah besar Rawai yang bersepupu dekat dengan Kuwei secara matrilineal. Paai terdiri dari kamar Radivun yang memiliki hubungan sepupu jauh secara matrilineal dengan Kuwei dan Rawai. Rumansara (Numansara atau Ndumansarai) terbagi menjadi kamar tua aimbuva (Aimbuga, Aembevar), Kamar tengah Manapakami dan Nyangkuv, dan kamar bungsu (adik) Karutut. Rumansara memiliki hubungan matrilineal dengan Kuwei.

Sembai-Maniambo terdiri dari Sembai Kapanae, Sembai Taman dan Sembai Konamur. Maniambo terdiri dari Maniambo Manawat, Maniambo Atewa, dan Maniambo Anumi. Turunan Sembai-Maniambo memiliki hubungan matrilineal dengan Kuwei, Rumansara, Rawai dan Paai dan sebaliknya.

Kelompok Yawar non-Yawa terdiri dari Arampi. Arampi terbagi menjadi kamar tua dan adik. Kelompok non-Yawa lainnya adalah kelompok Kadiwaru dari Miosnum dan Pom, Sroyer dari kampung Wadibu, Kapisa dari kampung Wari, Kaisiri dan Rumbiak dari kampung Urfu, Arwam dari salah satu kampung di Biak, Horota dari Kampung Woi-Woinap, dan Aiwui dari kampung Risei-Sayati, Waropen.  Kelompok non-Yawa memiliki hubungan kekerabatan secara matrilineal dengan yavarugav dan yavar di muni tanen.

Definisi Kekerabatan dan Peradaban

Belum dapat dipastikan secara tepat prosesi terbentuknya kekerabatan dan peradaban di Muni Tanen. Meskipun demikian, dapat diasumsikan bahwa kekerabatan hadir sebelum hadirnya peradaban. 

Kekerabatan diartikan sebagai hubungan sosial dan keluarga berdasarkan hubungan darah atau perkawinan, yang membentuk unit-unit keluarga dan mengikat individu dalam suatu masyarakat. Peradaban diartikan sebagai bentuk masyarakat atau kebudayaan yang kompleks dan maju yang ditandai oleh adanya kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan struktur sosial, serta mencakup nilai seperti sopan santun, etika dan moral yang dianut dalam kehidupan sehari-hari suatu bangsa.

Kekerabatan masyarakat membentuk kelompok-kelompok klan yang saling menjaga dalam pengembaraannya di daratan Tanen untuk berburu dan mengumpul. Dari hubungan kekerabatan, penduduk Muni Tanen di masa lalu mulai membangun kontak-kontak dagang (barter) dengan para penutur bahasa-bahasa Austronesia di sekitaran Teluk Cenderawasih. 

Kontak-kontak barter dengan penutur bahasa Austronesia membentuk hubungan-hubungan dagang yang baru. Vatan No Muni Tanen mulai membangun hubungan dagang dengan para utusan Kerajaan Ternate dan Tidore yang menghampiri mereka di pesisir utara pulau Yapen, para pedagang Tionghoa yang jejak dan turunannya masih ada di Muni Tanen hingga saat ini, dan dengan orang-orang Eropa. 

Hubungan-hubungan dagang menjadikan orang-orang Muni Tanen sebagai masyarakat Agraris. Mereka mulai mengenal jenis tanaman dan hewan yang bernilai ekonomi tinggi. Mereka mulai membuka lahan-lahan (tanea) untuk membudidaya tanaman seperti masoi, gaharu, damar dan lain-lain serta menjaga kawasan dan habitat burung Cenderawasih.

Peradaban agraris sangat berpengaruh terhadap sistem kekerabatan dan penamaan marga di Muni Tanen. Marga-marga campuran Yawa hadir di muni Tanen pada periode Agraris awal. Sementara marga-marga non Yawa hidup bersama orang-orang Muni Tanen pada era hubungan barter awal dan pada masa Hindia-Belanda. 

Foto

Pola Peradaban Masyarakat Yawa di Muni Tanen

 

Mengapa saya Kuwei, tetapi mereka Rumansara, Rawai, Sembai dan Maniambo?

Saya Kuwei karena nenek moyang saya adalah kuwei. Nenek moyang saya bersepupu dekat dan jauh, atau bersahabat dagang dengan para moyang dari para sepupu saat ini yaitu Rawai, Sembai, Maniambo, Pai, Rumansara, Kapisa, Sroyer, Arampi, Kadiwaru, Aiwui, Arwam dan Horota. Kami terhubung secara matrilineal, patrilineal, atau sebagai sahabat dagang. 

Saya memiliki hak waris adat pada tanah leluhur saya. Mereka memiliki hak waris adat pada negeri nenek moyangnya. Sama seperti saya, hak waris adat adalah kehormatan yang diwariskan turun temurun. Sebagai sepupu, kami bertanggung jawab untuk menghormati asal usul kami dan menjunjung nilai-nilai luhur dalam kehidupan suku Yawa di muni tanen. Sebagai sepupu, kami menjadi kelompok manusia yang terhubung satu sama lain.  

Kajian tentang marga

Kajian tentang marga yang sedang dikerjakan oleh anggota IPEMAROS Wilayah Studi III Manokwari diberi judul Vatan No Muni Tanen. Kajian ini akan dikontribusikan dalam bentuk tulisan ke Dewan Adat Kabupaten Kepulauan Yapen, Masyarakat Adat dan Gereja di Muni Tanen, Artanen, desa Roswari, distrik Yapen Utara, Papua.

Kajian Vatan No Muni Tanen berisi jawaban lengkap dari pertanyaan "Mengapa saya Kuwei, tetapi mereka Rumansara, Rawai, Sembai dan Maniambo?" 

 

Tim Kajian Vatan No Muni Tanen

  1. arakov Osea Sembai
  2. arakov Thomas Sembai
  3. arakov Ofni Sembai
  4. arakov Nikson Aiwui
  5. arakov Zeth Maniambo
  6. arakov Keliopas Kapisa
  7. arakov Benyamin Rawai
  8. arakov Kornoles Pai 

Penulis dan Editor Redaksi

Siriwai Adrianus Varano Kuwei

 

Ipemaros.doc

Suara Burumai

Manokwari, 07 September 2025

 

Komentar

Postingan Populer