KISAH INSPIRATIF ANAK ARTANENG: THOMAS SEMBAI
MENGABDI DI PULAU AY, BANDA NEIRA,
MALUKU
Nama saya Thomas Sembai. Saya berasal dari kampung Artaneng, pesisir utara pulau Yapen, Papua. Saya adalah alumni Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua Manokwari, Papua Barat.
Saat ini, saya aktif sebagai pengasuh Sekolah Minggu, terlibat dalam kegiatan-kegiatan pada organisasi Persekutuan Anak Muda di Jemaat Gereja Kristen Injili Petrus Amban, Manokwari, bekerja pada organisasi Non Pemerintah (NGO), dan aktif sebagai kordinator dan motivator anggota Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Asal Kampung Manatanen desa Roswari (IPEMAROS) Wilayah Studi III Manokwari .
Pada tahun 2024, saya terpilih sebagai delegasi program Muda Mendunia! Dan pada awal tahun 2025, saya berkesempatan mengunjungi desa Ay, di Banda Neira, Maluku Tengah.
Saya memperoleh informasi tentang kegiatan pengabdian di kampung Ay, Banda Neira, ketika membaca postingan pada akun instagram Muda Mendunia. Sekilas membaca postingan tersebut, saya tertarik untuk mencari informasi lebih lengkap. Jadi, saya iseng-iseng mengakses link pendaftaran yang disediakan, kemudian mengunduh file buku panduannya.
Setelah memperoleh buku panduan, saya langsung membacanya secara detail. Ternyata program Pengabdian ini menarik sekali dan cocok untuk saya. Tanpa ada pertimbangan, saya daftar!
Saya mendaftar melalui jalur Fully Funded (biaya penuh) yang disediakan oleh komunitas dan menunggu pengumumannya beberapa waktu kemudian. Para panelis program pengabdian Muda Mendunia melakukan penilaian dan pertimbangan terkait kelayakan seseorang berdasarkan berkas dan dokumen yang dikirim. Ketika itu, saya dinyatakan lolos berkas dan mengikuti proses seleksi selanjutnya yaitu wawancara.
JALUR PENDANAAN MUDA MENDUNIA
Setelah diwawancarai, saya dinyatakan lolos oleh para panelis tetapi melalui jalur “Partial Funded”. Komunitas Muda Mendunia menyediakan dua jalur funding atau pendanaan yaitu jalur Fully Funded dan Partial Funded. Fully Funded berarti dibiayai secara penuh oleh Komunitas Muda Mendunia. Sedangkan, Partial Funded berarti dibiayai sendiri, khusus biaya tiket ke titik penjemputan awal. Biaya selanjutnya selama kegiatan Pengabdian Masyarakat menjadi tanggungan Komunitas Muda Mendunia.
Oleh karena saya lolos partial funded, saya menanggung setengah biaya keberangkatan dari tempat asal ke beberapa kota titik kumpul dan penjemputan yang ditentukan. Waktu itu, saya memilih kota Ambon. Di kota Ambon, saya kemudian diundang untuk mengikuti Banda Neira Youth Summit 3.0 dan Conference (Konferensi).
BANDA NEIRA YOUTH SUMMIT 3.0 DAN CONFERENCE
Banda Neira Youth Summit 3.0 dan Conference adalah program Pengabdian Masyarakat lintas disiplin ilmu dimana terdapat Conference (konferensi) yang melibatkan pemuda-pemudi seluruh Indonesia, khususnya mereka yang terpilih sebagai delegasi Muda Mendunia. Program Banda Neira Youth Summit 3.0 dilakukan sebagai sarana yang mewadahi anak-anak muda untuk melakukan Pengabdian Masyarakat dan meningkatkan kompetensi diri.
“Gass!! Kerjakan!”.
KUMPULAN ORANG MUDA YANG BERPIKIR GLOBAL DAN BERTINDAK LOKAL
MUDA MENDUNIA!
Muda Mendunia adalah komunitas kepemudaan yang mewadahi pemuda-pemudi untuk mengembangkan kapasitas diri melalui program Pengabdian Masyarakat di dalam negeri maupun di luar negeri. Komunitas Muda Mendunia dikelola oleh Barakati Indonesia sebagai platform pemuda-pemudi Indonesia yang konsen pada kegiatan pengabdian berbasis sosial-travel di pulau-pulau terluar Indonesia maupun daerah yang berbatasan dengan negara lain. Sahabat bisa memperoleh informasi lengkapnya pada link ini: https://linktr.ee/BarakatiIndonesia
Para delegasi yang Muda dan Mendunia dihadirkan untuk memberikan kontribusi bermakna serta kenangan yang tidak terlupakan bagi masyarakat. Beberapa agenda yang disiapkan dan dikerjakan adalah Pengabdian Masyarakat di Pulau Ay, Banda Neira dan Conference 3.0 di Universitas Banda Neira, Turut serta dalam Aksi-aksi Perlindungan Lingkungan, pemeriksaan Kesehatan Umum, Pemanfaatan Sumber Daya Pertanian dan Kelautan, Pendidikan Inspirasi Anak Negeri, berbagi Materi Belajar Kreatif bersama Guru, Berkebun Pala bersama Warga Lokal dan tentunya jalan-jalan keliling Banda Neira!
“JANGAN MATI, SEBELUM KE BANDA NEIRA”
Kami berkesempatan menikmati indahnya pulau Ay, kepingan surga di timur Indonesia. Menurut saya, Banda Neira adalah kepingan surga kecil di Maluku, Indonesia. Banda Neira adalah pulau yang kaya akan rempah dan sejarah. Kalau kata Bung Sjahrir, salah satu pahlawan Nasional Indonesia “Jangan mati sebelum ke Banda Neira”. Bung Sjahrir betul!
Daratan Banda Neira mampu menyihir
siapa saja yang mengunjunginya. Di Banda Neira, terdapat Benteng Belgica yang
berdiri kokoh sejak abad ke 16 dengan pemandangan Gunung Api Banda yang Megah,
Gereja Tua Banda yang dibawahnya terbaring jasad prajurit Belanda, hingga Pulau
Rhun dengan sejarahnya yang pernah ditukar dengan Manhattan, New York, oleh
Belanda saat bersengketa dengan Inggris berabad-abad lalu.
SEDIKIT TENTANG BANDA NEIRA
Banda Neira merupakan deretan kepulauan yang berjarak (-/+) 200 KM dari kota Ambon. Banda Neira dapat diakses melalui jalur laut dan udara. Terdapat berbagai macam transportasi ke Banda Neira; diantaranya Kapal PELNI Pangrango, Sangiang, dan Labobar, Kapal Sabuk Nusantara atau biasa disebut tol laut, Kapal Bahtera Nusantara 02, dan Pesawat SAM Air.
Di Banda Neira, terdapat beberapa pulau yang dikenal dengan sebutan Pulau Banda Besar, Neira, Gunung Api, Rhun, Ay, Hatta, dan Sjahrir. Setiap pulau memiliki karakteristik masing-masing. Pulau Neira kaya akan sejarah Nasional Indonesia karena disana terdapat rumah pengasingan yang pernah ditinggali oleh Bung Hatta, Sjahrir, dan dr. Cipto.
Di Pulau Banda Besar, kita bisa berfoto dengan latar pemandangan Gunung Api Banda yang indah. Pulau Rhun terkenal dengan kisah pertukaran Manhattan oleh Belanda dan Inggris. Pulau Hatta kaya akan pesona bawah laut dan indahnya bibir pantai dengan air sebiru kristal. Diantara pulau-pulau tersebut, terdapat satu pulau yang dikenal dengan pulau Ai atau Ay, tempat dimana saya terlibat dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat.
PULAU AY
Pulau Ay adalah sebuah pulau dan desa yang berada di Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Letak pulau ini berada 6 mil di sebelah Barat Kepulauan Banda. Pulau Ay merupakan satu di antara enam pulau di Kepulauan Banda yang berpenghuni.
Pulau Ay menjadi saksi bisu perjalanan dagang rempah-rempah Nusantara yang diambil oleh orang-orang Eropa dan dikirim ke belahan bumi lainnya beberapa abad lalu. Pulau Ay juga menjadi tempat dimana pasukan Inggris pernah melatih penduduknya untuk mempertahankan diri dari serbuan Belanda pada tahun 1615. Pulau Ay menjadi lokasi kegiatan Banda Neira Youth Summit 3.0 dan akan dilanjutkan dengan Banda Neira Youth Summit 2 dengan fokus utamanya yaitu pengembangan wisata berkelanjutan, isu kesehatan dan Pendidikan.
Kegiatan Banda Neira Youth Summit 3.0 di Pulau Ay, Banda Neira, ketika itu berlangsung dari tanggal 17 Januari-12 Februari tahun 2025. Selama kegiatan Pengabdian Masyarakat, saya bersama sahabat-sahabat delegasi lainnya, para fasilitator, dan masyarakat bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan target-target yang telah ditetapkan.
1. Sahabat alam
2. Anti bulling
3. SEMEDI (serial mengenal diri)
4. Relawan pendidikan
5. Pelatihan dan sharing pendidikan (AKSARA)
6. Pentas budaya
7. Metode pembelajaran literasi-numerasi
8. Jaddul fatah
9. Dunia bahasa
10. TPQ.
Sedangkan program kerja Divisi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif adalah Clean up, Prakarya, Cultural connect, Day ivlog (Pelamakasayasa), FGD (focus group discassion), Camp biru, dan Digi Ay.
Melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat, saya dapat mengabdikan diri secara langsung di lapangan dengan turut terlibat bersama warga masyarakat melakukan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Saya juga diberi kesempatan untuk menginap bersama keluarga disana dan berkebun bersama mereka. Saya belajar banyak hal dari pengalaman mengikuti program Muda Mendunia-Barakati Indonesia sebagai delegasi Banda Neira Youth Summit 3.0 dan Konferensi.
Satu hal yang sangat saya syukuri adalah ketika itu saya ditunjuk sebagai Koordinator Umum kegiatan yang dipilih secara langsung oleh para delegasi dan fasilitator. Menjadi Kordinator Umum adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Saya memperoleh penghargaan sebagai Best Speaker (Juru Bicara Terbaik) setelah memberikan presentasi jurnal penilitian dan pengabdian pada konferensi para delegasi Muda Mendunia yang digelar di Gedung Serbaguna Universitas Banda Neira.
Teman-teman delegasi, fasilitator, dan saya sangat menaruh harapan yang sangat besar terhadap perkembangan dan pembangunan yang lebih maju bagi masyarakat di kampung Ay. Harapan kami, semoga pengabdian yang telah kami lakukan dapat menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat Desa Pulau Ay Banda Neira.
Masyarakat desa Ay juga mengharapkan agar kegiatan Pengabdian Masyarakat harus berkelanjutan dan tidak hanya di bidang pendidikan - sosial dan pariwisata - ekonomi kreatif tetapi harus ada bidang lain seperti kesehatan, lingkungan, pertanian, perternakan, kebudayaan, dan lain-lain. Saya sangat yakin bahwa partisipasi kami lewat kegiatan Pengabdian Masyarakat dapat membawa dampak positif secara langsung bagi masyarakat.
Penulis: Thomas Sembai
Editor:
Siriwai Adrianus Varano Kuwei
IPEMAROS.doc 2025









Komentar