KISAH INSPIRATIF ANAK ARTANENG: PANDITA TOPA
……penyesalan tidak bisa mengalahkan panggilan Tuhan karena Tuhan telah memberikan keinginan untuk melayani! Tuhanlah yang mendasari segalanya ….. Tuhan memiliki cara Nya sendiri! Waktu Tuhan pasti yang terbaik ..
Nama saya Elden Pay, demikian nama lengkap saya yang tertulis pada Surat Baptis, Akta Kelahiran, pada Ijazah Pendidikan Dasar, Pertama, Menengah, dan Perguruan Tinggi. Sejak kecil, saya bercita-cita menjadi pendeta karena Bapa saya adalah seorang Guru Jemaat.
Bapak saya dikenal oleh masyarakat Artaneng sebagai Grj. Chorneles Pay. Bapak melayani pada Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Semuel dan pada Jemaat Baitania di kampung Artaneng (perubahan nama dari Semuel ke Baitania tahun 1991) hingga meninggal dan dimakamkan di pemakaman umum Kamandavani, kampung Artaneng.
PANDITA TOPA
Saya biasanya dipanggil Pandita Topa, akronim dari Tomas Pay, oleh para sahabat dan masyarakat di Jemaat GKI Baitania Artaneng, tempat saya pelayanan saat ini.
Saya dipanggil Tomas karena tepat ketika saya lahir pada tahun 1990, salah satu budayawan, aktivis dan tokoh politik Papua berkunjung ke kampung halaman saya, Artaneng, di Yapen Utara. Namanya adalah Thom Wainggai.
Thom Wainggai sendirilah yang memberikan nama “Thom” kepada saya, yang kemudian dipanggil Tomas.
Saya menempuh studi di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Imanuel Ambaidiru. Setelah tamat, saya melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Terbuka-Kampung Menawi, distrik Angkaisera, Kepulauan Yapen. Pada tahun 2010, saya mendaftar pada Sekolah Menengah Atas (SMA) Onate di kota Serui dan bersekolah disana selama tiga tahun.
IKUT ANGIN RAME-RAME
Ketika saya tamat dari SMA Onate, nampaknya Tuhan mengikutsertakan saya pada haluan angin “rame-rame”. Ketika itu, sebagian besar teman-teman saya ramai-ramai mendaftar ke Universitas Negeri Papua (UNIPA) di Manokwari.
Saya “ikut rame” dengan mereka. Saya mendaftar dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan Manajemen Perkantoran, Fakultas Ekonomi.
Di UNIPA, saya tinggal bersama teman-teman mahasiswa yang menempati Asrama UNIPA Unit Veteran di Kompleks Kampus, Amban.
FOTO
Foto bersama teman-teman mahasiswa penghuni Asrama Unit Veteran (ASVET) UNIPA
Tim Nasional ASVET 2013 bermain melawan tim Ambange (Tim bola Pemuda Sowi II) di Lapangan STT Erikson-Tritt Manokwari
Saat masih menempuh studi selama tiga semester di Fakultas Ekonomi, nampaknya panggilan untuk menjadi pendeta semakin kuat. Saya lebih senang dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan Ibadah Persekutuan Anak Muda Petrus Amban (PAMPET) dan turut serta sebagai penyanyi paduan Suara PAMPET.
Pada tahun 2015, saya mendaftar program Kateksasi di Jemaat GKI Petrus Amban dan dibina oleh Pendeta Alberth Rumwaropen, S.Th., M.Mis, ibu Pendeta Juliana Yacobs/Kareth, S.Th, M. Mis., beserta beberapa tua-tua Jemaat dan para dosen di Rayon 09, Jemaat GKI Petrus Amban, Manokwari.
Foto
GKI Petrus Amban ( sumber foto: petrusamban.org)
Saya sangat terinspirasi dengan ajaran-ajaran yang diberikan selama mengikuti kelas-kelas Kateksasi yang dipimpin oleh kedua pendeta dan para tua-tua Jemaat. Ajaran-ajaran yang saya terima semakin meyakinkan saya bahwa saya harus menjadi pendeta.
Saya menyimpan dengan baik hampir sebagian besar materi-materi ajar yang diperoleh selama mengikuti kelas-kelas Kateksasi. Setelah selesai Kateksasi, saya mengikuti SIDI Jemaat dan diteguhkan.
PINDAH KAMPUS DARI UNIPA KE STT
Saya memutuskan untuk pindah kampus setelah mengikuti SIDI Jemaat dan diteguhkan. Ketika itu, saya meminta Surat Pindah dari UNIPA ke Sekolah Tinggi Theologia (STT) Erikson – Tritt Manokwari.
Saya memilih STT Erikson-Tritt karena saya berpikir bahwa ayah saya dahulu bersekolah disana. Di kemudian hari, saya sedikit ragu-ragu dan mulai menyadari bahwa kemungkinan saya salah tentang tempat studi Bapa saya dahulu.
FOTO
STT Erikson-Tritt Manokwari
Pada saat mendaftar di STT Erikson-Tritt, saya memilih studi Pendidikan Agama Kristen. Akan tetapi, beberapa dosen di STT Erikson-Tritt meminta saya untuk studi Theologia karena jumlah mahasiswa baru jurusan Theologi tahun 2015 sebanyak tiga 3 orang. Dengan demikian, saya menjadi calon mahasiswa ke 4 dan melengkapi daftar Calon Mahasiswa baru Strata Satu (S1) Theologia angkatan 2015 di STT Erikson-Tritt yang berjumlah 4 orang.
DIBIAYAI OLEH MISIONARIS
Pada semester pertama dan kedua, biaya studi saya menjadi tanggungan keluarga. Pada semester ketiga hingga semester delapan, biaya studi saya ditanggung secara penuh lewat jalur beasiswa yang diberikan oleh para misionaris asal Amerika. Beasiswa Missionaris ditawarkan dan diurus oleh Pendeta Isak Men, salah satu misionaris asal Amerika Serikat yang juga menjadi staff dosen dan pembimbing saya di STT Erikson-Tritt Manokwari.
Selain beasiswa Misionaris, saya juga diberi kesempatan untuk bertempat tinggal di Asrama Putra Paul Rhoads STT Erikson-Tritt Manokwari selama masa studi.
FOTO
Asrama Putra, Paul Rhoads
STT Erikson-Tritt Manokwari
MENJADI SEKRETARIS BEM DAN MOTIVATOR BAGI ANGGOTA IPEMAROS
Setelah menempuh studi selama dua tahun, saya diberikan kepercayaan untuk menjadi Sekretaris I Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STT Erikson-Tritt. Tugas utama saya sebagai Sekretaris I BEM adalah menjalankan dan memimpin rapat-rapat senat bersama rekan-rekan pengurus BEM, mahasiswa, dan mahasiswi di setiap hari Kamis.
Melihat pengalaman saya dalam mengurus organisasi BEM yang cukup baik, beberapa dosen senior meminta saya untuk menjadi Kordinator Sekretariatan Kegiatan PEMKRI (Pemantapan Murid Kristus) pada tahun 2018. PEMKRI merupakan kegiatan OIKUMENE tahunan yang menerima peserta dari berbagai denominasi Gereja untuk dibentuk sebagai Murid Kristus.
Tidak hanya aktif pada organisasi BEM, saya juga turut serta bersama teman-teman, para senior dan anggota Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Asal Kampung Manatanen desa Roswari (IPEMAROS) dalam melakukan pengabdian pada masyarakat ke kampung halaman saya, Artaneng.
Pada tahun 2018, kami mengadakan Seminar Kemasyarakatan tentang Pertanian, budaya, hidup sebagai anak rantau dan Studi pada Perguruan-Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Tanah Papua.
FOTO
Elden Pay
Saat menjadi pembicara pada Seminar Kemasyarakatan
di Gedung Serbaguna Semuel, GKI Baitania Artaneng tahun 2018
Saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendorong adik-adik di Kampung Artaneng agar bisa bersekolah ke STT Erikson-Tritt jika ingin menjadi pendeta pada denominasi Gereja Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) atau studi ke STT I.S. Kijne Jayapura jika ingin menjadi pendeta GKI.
Bagi saya, tidak ada bedanya. Asalkan semua didasarkan pada panggilan Tuhan Yesus Kristus.
KULIAH DI STT ERIKSON-TRITT DAN MELAYANI DI JEMAAT GKI
Sangat jarang bagi mahasiswa STT Erikson-Tritt untuk melayani di Jemaat GKI. Ketika itu, saya menjadi satu-satunya mahasiswa STT Erikson-Tritt yang melayani di Jemaat GKI.
STT Erikson Tritt menerapkan kebijakan pelayanan ke Jemaat-jemaat GPKAI bagi setiap mahasiswa. Teman-teman saya yang lain melayani pada jemaat-jemaat GPKAI di Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak dan sekitarnya. Mahasiswa pelayanan diberi tugas untuk memberikan laporan bulanan tentang perkembangan pelayanan di masing-masing Jemaat.
Saya melayani di Jemaat GKI Bethesda Inggon, Sowi Empat Pantai sejak terdaftar sebagai mahasiswa pada tahun 2015 hingga tahun 2017. Di Jemaat, saya ditugaskan sebagai pengasuh Sekolah Minggu dan membantu menjalankan pelayanan bersama teman-teman PAM.
FOTO
Jemaat GKI Bethesda Inggon
Sowi Empat Pantai di Manokwari
Pada bulan Desember tahun 2018, saya meminta agar Praktik Pengalaman Lapangan saya dilaksanakan kembali ke Jemaat GKI. Oleh karena itu, saya diarahkan oleh para staff dosen senior STT Erikson-Tritt untuk menghubungi Pimpinan Badan Pekerja (BP) Klasis GKI Manokwari.
Kemudian, kampus menyurati pimpinan BP Klasis GKI Manokwari tentang keinginan saya untuk menjalankan program Praktik Pengalaman Lapangan saya di Jemaat GKI.
FOTO
Jemaat GKI Paulus
Sowi Empat di Manokwari
Ketika itu, saya bertemu dengan kaka Pendeta Sadrak Simbiak, S.Th selaku sekretaris BP Klasis GKI Manokwari dan diberi izin tertulis untuk pelayanan ke Jemaat GKI Paulus, Sowi Empat pada bulan Desember tahun 2018 hingga Januari tahun 2019.
Pesan dari kaka Pendeta Sadrak Simbiak ketika itu adalah “Elden melayani di Gereja yang dekat dengan kampus e? di dalam kota”
FOTO
Elden Pay
Saat diberi kesempatan untuk melayani di Jemaat GKI Paulus Sowi IV selama Praktik Pengalaman Lapangan tahun 2019
Di Jemaat GKI Paulus Sowi Empat, saya dibina oleh Ibu Pendeta Kadam selama masa Praktik Pengalaman Lapangan. Diantaranya, saya diberi kesempatan untuk memimpin Ibadah Minggu pagi serta terlibat dalam kegiatan Pemuda/i dan Sekolah Minggu.
Saya diwisuda dan memperoleh gelar Sarjana Theologia (S.Th) dari STT Erikson-Tritt Manokwari pada tahun 2019.
FOTO
Elden Pay
Saat diwisuda pada tahun 2019
MEMILIH PELAYANAN DI KAMPUNG
Setelah diwisuda, saya diminta oleh beberapa senior IPEMAROS dan beberapa teman-teman untuk melayani pada Jemaat GPKAI di Manokwari. Menurut mereka, pelayanan ke Gereja Kristen Injili (GKI) akan sulit bagi saya karena perbedaan dogma Theologis yang diajarkan di kampus.
Saya memikirkan saran dan masukan dari semua orang dan saya memutuskan untuk tetap melayani pada Jemaat GKI. Saya pulang kampung dan mulai membantu Jemaat GKI Baitania Artaneng pada tahun 2020.
Di Jemaat, pelayanan saya dimulai dengan menjadi Pengasuh Sekolah Minggu. Saya bertanggung jawab menjalankan ibadah dan membantu para pengasuh menyusun jadwal-jadwal ibadah Minggu dan Tunas.
Dari pelayanan Sekolah Minggu, saya mulai diberikan kepercayaan untuk menjadi pelayan Firman pada ibadah-ibadah Persekutan Anak Muda, Persekutuan Kaum Bapa dan Persekutuan Wanita, juga terlibat dalam kepanitiaan di setiap aksi-aksi pencarian dana seperti bazar guna menunjang kegiatan-kegiatan dan program kerja Jemaat.
Pada tahun 2022, saya dipercayakan sebagai Operator Jemaat bersama beberapa teman-teman pengurus organisasi PAM, sekretaris dan anggota Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) GKI Baitania Artaneng. Tugas saya adalah mengurus administrasi Jemaat seperti Surat Menyurat, Liturgi, Persiapan Materi Sidang Jemaat, dan Undangan-Undangan.
Pada tahun yang sama, saya diberi tugas untuk menjadi salah satu pengajar bagi calon anggota SIDI Jemaat lewat kelas-kelas Kateksasi yang dibuka oleh Majelis Jemaat GKI Baitania Artaneng. Saya mempelajari materi ajar bagi Calon Anggota SIDI Jemaat yang saya peroleh dan simpan dengan baik sejak mengikuti kelas-kelas Kateksasi di Jemaat GKI Petrus Amban, Manokwari. Materi-materi tersebut saya gunakan lagi untuk mengajar teman-teman muda calon anggota SIDI Jemaat di GKI Baitania, Artaneng.
TUNJANGAN HIDUP SELAMA PELAYANAN DI KAMPUNG
Saya sangat bersyukur karena Tuhan selalu menjaga saya dalam pelayanan. Tuhan memberi orang-orang tua, sahabat pemuda-pemudi, teman-teman pelajar, dan semua orang yang baik bagi saya.
Saya pikir kehidupan dan pelayanan saya tergambar dalam lagu Sekolah Minggu yang berkata
kerja buat Tuhan, selalu manis e..
Biar sondor gaji
selalu manis e
Saya kerja buat Tuhan sungguh senang senang e
Dipanggil Tuhan selalu manis e ..
Membuang diri .. ke ladang Tuhan sajalah
Serta Tuhan, selalu manis e..
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya diberi kepercayaan oleh PHMJ untuk mengelola kebun proyek Jemaat. Jemaat GKI Baitania Artaneng diberikan asset Hak Usaha Lahan Tanah oleh pemilik Hak Waris Adat sebagai asset Gereja untuk perkebunan.
Terdapat tanaman-tanaman jangka panjang seperti durian, langsat, dan pinang yang telah ditanam sejak tahun 1970 dan tanaman pisang yang ditanam oleh warga Jemaat setiap tahunnya. Juga, bersama warga Jemaat kami mulai menanam kembali Kakao pada tahun 2022.
Sejak tahun 2022 – 2023, saya sangat terbantukan dengan hasil panen yang diberikan Tuhan pada Kebun Proyek Jemaat GKI Baitania Artaneng. Selain kebun proyek Jemaat, saya juga berkebun pada lahan lainnya guna menunjang kebutuhan hidup sehari-hari.
BERKESEMPATAN MENGIKUTI UJIAN VIKARIS
Pada tahun 2023, saya diberi kesempatan mengikuti ujian Vikaris yang diselenggarakan oleh Sinode GKI di Tanah Papua, bertempat di salah satu Gedung Universitas Ottow Geissler, Kompleks Pendidikan Kristen, Kota Raja Dalam, Jayapura. Ujian dilaksanakan pada bulan April – Mei tahun 2023.
Setelah mengikuti Ujian Vikaris, saya dinyatakan "tidak lulus". Meskipun demikian, saya tidak merasa kecewa. Saya hendak berangkat pulang setelah mengetahui hasil ujian vikaris karena kerinduan untuk kembali melayani di kampung.
Tetapi, salah satu teman saya menyarankan agar saya menghadap Wakil Sekretaris Sinode, Bapak Pendeta Handry W. D. Kakiay, S.Th. Menimbang saran kawan saya, saya memutuskan untuk bersabar dan mengatur waktu agar bisa bertemu dengan beliau.
Dalam pertemuan dengan Pendeta Kakiay, saya mendiskusikan pekerjaan pelayanan saya bersama beberapa rekan lainnya asal Yapen yang juga dinyatakan tidak lulus ujian vikaris. Setelah mendengar, menimbang keterangan, cerita dan kesaksian yang saya sampaikan, Bapak Pendeta Kakiay memutuskan untuk menugaskan saya sebagai staff di Klasis GKI Yapen Utara. Saya telah bertugas sejak tahun 2023 di Klasis GKI Yapen Utara sambil membantu pelayanan di Jemaat GKI Baitania Artaneng.
SETELAH ENAM TAHUN
Setelah enam tahun keluar dari Manokwari, saya kembali ke Manokwari untuk mengikuti perayaan HUT Pekabaran Injil pada tanggal 05 Februari tahun 2025. Saya sempat berkunjung ke Jemaat GKI Inggon untuk beribadah Minggu pagi.
Setelah Ibadah Minggu Pagi, saya menyempatkan waktu untuk bertemu beberapa rekan-rekan pengasuh dan bercerita. Mereka kemudian meminta saya untuk membantu pelayanan selama sebulan di Jemaat GKI Inggon Sowi Empat Pantai sebelum pulang kembali ke Serui.
FOTO
Elden Pay
saat pelayanan adik-adik Sekolah Minggu di Jemaat GKI Bethesda Inggon Sowi Empat Pantai
pada hari Minggu tanggal 02 Maret 2025
PESAN SAYA BAGI TEMAN-TEMAN MUDA DI JEMAAT GKI BAITANIA ARTANENG
Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah “saya sedikit menyesal karena studi di STT Erikson-Tritt Manokwari. Tetapi, penyesalan itu bukan sebuah persoalan karena menyesal tidak bisa mengalahkan panggilan Tuhan.
Tuhan memberikan keinginan untuk melayani! Tuhanlah yang mendasari segalanya!, tanpa memandang doktrin dan ajaran denominasi Gereja. Karena Tuhan memiliki cara Nya sendiri, waktu Tuhan pasti yang terbaik”.
Kerinduan terbesar saya bagi adik-adik dan pemuda di kampung Artaneng adalah bersekolahlah dengan baik dan pulang kembali untuk membangun kampung halaman dan Jemaat.
Jika diantara adik-adik ada yang mempunyai kerinduan untuk menjadi pendeta, maka dorongan yang melahirkan keinginan untuk menjadi pendeta harus diupayakan dan dibina oleh orang tua sejak masa kecil.
Penulis
Elden Pay
Editor Redaksi
Siriwai Adrianus Varano Kuwei
Edisi kedua
Cerita Inspiratif Anak Artaneng
IPEMAROS.doc
16 Maret 2025












Komentar