KISAH INSPIRATIF ANAK ARTANENG: MESAK MANIAMBO
FOTO
Gur Mes (Guru Mesak)
..Matematika harus dipelajari dengan cara membuka buku matematika setiap hari ..
Namanya Mesak Maniambo. Mesak akrab dipanggil Gur Mes (Guru Mesak) karena pekerjaannya sebagai Guru yang dikontrak oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Yapen untuk membantu mengajar para siswa/i Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Baitania Artaneng.
TENTANG GUR MES
Mesak lahir di kampung Artaneng pada tanggal 07 bulan Mei tahun 1984. Sebagai anak keenam dari pasangan Anenap Dominggus Maniambo dan Anenam Ester Sembai, Mesak bertumbuh dalam keluarga yang hidupnya sangat sederhana di Muni Tanen (Artaneng) desa Roswari, distrik Pantai Utara, Kepulauan Yapen.
Sejak kecil, Mesak telah diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk bekerja sebagai petani sama seperti mereka, keluarga mereka dan kebanyakan masyarakat di Muni Tanen.
Ayah kandung Mesak, anenap Dominggus, merupakan anak kandung yang lahir dari yavaro (rumah) Maniambo Atewa tetapi terpelihara ke yavarugavo (kamar) Sembai Kapanae dan Taman. Oleh karena itu, semua saudara dan saudarinya memakai keret Sembai.
Berdasarkan kebiasaan dan adat istiadat masyarakat suku Yawa Mora di Pesisir pantai Utara Pulau Yapen, kampung Manatanen, harus ada anak kandung dari anak terpelihara yang dikembalikan ke keluarga kandung untuk menggantikan ayahnya.
Setelah berumur lima tahun, Mesak diserahkan kembali kepada yavaro Maniambo Atewa menggantikan ayah kandungnya.
BELAJAR DI KAMPUNG
Mesak menempuh studi di SD YPK Baitania Artaneng pada tahun 1991. Ketika itu, Mesak dididik oleh para guru yang selalu memotivasinya untuk rajin bersekolah.
Para guru diantaranya adalah mansar Guru Herman Kapisa (Kepala Sekolah), anenap Martinus Ruamba, anenap Sefnat Maniambo, anenap Guru Derek Kuwei, dan mansar Guru Ch. Kaisiri.
FOTO
SD YPK Baitania Artaneng
Mengingat kembali kenangan ketika masih belajar bersama para guru, Mesak menceritakan kebiasaan-kebiasaan yang diterapkan oleh mereka di Sekolah Dasar guna pembinaan dan pengembangan pengetahuan siswa/i SD YPK Baitania Artaneng.
"kami sering sekali diberi hukuman berupa pukulan kayu atau rotan pada betis kaki, kedua tangan, bahkan kepala jika tidak menghafal perkalian" kenang Mesak.
Ganjaran tersebut diberikan di setiap hari-hari aktif sekolah oleh anenap Sefnat Maniambo.
"jadi ya..kitong harus hafal perkalian setiap hari supaya tidak dapat pukul"
tambahnya.
Pada setiap sore hari, mereka diberi kesempatan untuk belajar membaca di rumah Guru; mansar Herman Kapisa.
MELANJUTKAN SEKOLAH DI YOBI
Mesak tergolong peserta didik yang patuh, setia dan dengar-dengaran. Bermodalkan karakter baik yang dimiliki membuat Mesak berhasil menyelesaikan studi di bangku SD pada tahun 1997. Pada tahun yang sama, Mesak melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Yobi di kampung Yobi. Ketika itu, SMPN Yobi sedang menerima peserta didik baru angkatan kelima.
SMPN Yobi merupakan Sekolah Menengah Pertama yang baru saja dibuka ketika itu. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen membuka SMPN Yobi agar peserta didik yang ditamatkan dari beberapa SD YPK, INPRES dan Negeri pada kampung-kampung seperti Inggrisau, Sormasen, Yobi, Sambarawai, Kariap, Kore, Kerio, Tindaret, Manona, Dore, Artaneng dan Yobi di sebelah di sebelah barat pesisir utara Yapen dapat bersekolah lebih dekat dan bisa diakses melalui jalan darat dan laut.
Sebelum SMPN Yobi dibuka, satu-satunya SMP di pesisir Utara Yapen adalah SMP Windesi, distrik Windesi, di Yapen Barat Utara. Jarak antara kampung Artaneng dan Windesi sangat jauh serta dihalangi teluk dan tanjung-tanjung batu. Satu-satunya akses ke Windesi ketika itu adalah melalui jalur laut dengan cara berdayung atau memakai perahu motor tempel (Jonson).
ANAK - ANAK SATU KAMPUNG SEKOLAH DI YOBI
Di Yobi, mereka dibina oleh guru-guru yang sangat memotivasi terutama pada bidang bahasa Inggris dan Matematika yaitu Guru Woisiri dan Guru Heri Mulyono. Beberapa bidang studi lainnya diajarkan oleh Guru Zeth Amberi (Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial), Guru Benyamin Ayomi (Kepala Sekolah), Pak Agus (Guru Pendidikan Kewarga Negaraan), dan Guru Oktovianus Wom (Mata Pelajaran Agama).
GURU HERI MULYONO DAN MATEMATIKA
Guru Heri Mulyono bertempat tinggal di perpustakaan Sekolah. Tempat dimana Mesak banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku. Mesak sesekali membantu pak Heri melakukan pekerjaan rumah sebagai cara baginya untuk bisa bercerita, memperoleh informasi, dan menambah pengetahuan.
Pada suatu kesempatan, Mesak sempat mengeluhkan kejengkelannya kepada pak Heri
"Bapak Guru.. Matematika ini pelajaran susah sekali.."
"Matematika tidak susah. Matematika mudah kalau setiap hari mau belajar"
Jawab Pak Heri.
"inti dari Matematika adalah menguasai penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Kalau sudah tahu sistemnya, maka yang sisanya akan lebih mudah. Hanya perlu mengerti rumus dan persamaannya saja"
tambah Pak Heri.
Jawaban yang diberikan pak Heri kembali mengingatkan Mesak tentang masa sekolah dasar di kampung. Terdapat momen dimana dirinya beserta kawan-kawan selalu didorong untuk menghafal perkalian.
JALAN KAKI SEPANJANG PESISIR
Saat liburan sekolah, mereka selalu berjalan kaki menyusuri kampung Yobi di sebelah timur ke kampung Artaneng di sebelah barat (-/+) 100 Km.
Jika kerikil, pasir, dan rimbunan pohon dapat melukis, mereka akan memilih tinta terbaik untuk mewarnai derapan langkah Mesak dan sahabat angkatan 1997 asal Artaneng yang menaruh tapak-tapak kaki perjuangan di sepanjang pesisir utara pulau Yapen.
Mereka berjalan kaki seperti nenek moyangnya yang dahulu berjalan untuk menukar damar, pisang dan hasil hutan dengan para pedagang Tionghoa dan Biak di kampung Yobi pada dekade akhir 1800-an dan awal 1900-an.
FOTO
Pesisir Utara Yapen
Mana Burumai Tiba (Muara Sungai Burumai) di Muni Tanen
Tampak Tanjung Mamberarisy-Marinson (Roswari) di Kejauhan
Setelah berlalu lalang di sepanjang pesisir utara Yapen selama tiga tahun untuk menempuh studi di kampung Yobi, Mesak berhasil menyelesaikan studi dan ditamatkan pada tahun 2000.
KE BIAK, DAPAT BEASISWA, DAN PENGALAMAN HIDUP DI RANTAUAN
Pada tahun 2001, Mesak dan kedua sahabatnya; Yermias dan Zakarias melanjutkan studi ke Bosnik, Biak Timur. Mereka tinggal di kampung Soryar dan bersekolah pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 01 Biak Timur.
Ketiganya memilih bersekolah di Biak karena di Serui belum terdapat tempat tinggal bagi pelajar asal Artaneng.
Pada tiga bulan pertama studi, Mesak meraih nilai yang sangat baik. Mesak tergolong dalam sepuluh besar siswa yang memiliki nilai tinggi. Oleh karena itu, Mesak dan kesembilan siswa/i lainnya diberi tunjangan beasiswa dari sekolah.
Beasiswa yang diberikan sebesar (-/+) Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah). Mesak memilih untuk membagi beasiswa yang diberikan dan berbicara dengan wali kelasnya ketika itu, Ibu Guru Sambom, untuk memotong (-/+) Rp. 11000,- (sebelas ribu rupiah) guna pembayaran SPP sementara sisanya dipakai untuk membeli Alat Tulis dan kebutuhan lain.
Pada saat Mesak naik ke kelas dua, dia memilih jurusan Manajemen dan Akuntansi karena kesukaannya di bidang Matematika dan perhitungan.
Studi di perantauan tidak berjalan mudah meskipun tempat perantauan sangat dekat dengan kampung di Yapen Utara yang jaraknya sekitar (-/+) 50 Mil dari Yapen Utara dan 1 jam perjalanan laut.
Mesak berkisah tentang hari-hari dimana kedua sahabat dan dirinya berjalan di tengah terik matahari, terkadang hujan, dari kampung Soryar ke Sekolah dan pulang. Berjalan kaki di panasnya cuaca Biak telah menjadi bagian dari kehidupan yang mereka jalani sehari-hari. Sejak kecil, mereka adalah para pejalan kaki terbaik.
Terdapat momen dimana mereka tidak memiliki ongkos makan dan harus mengirim pesan ke kampung halaman. Ketika musim liburan sekolah tiba, mereka sesekali berkunjung ke
kampung Artaneng atau lebih memilih untuk menetap di kampung Soryar sembari menghabiskan masa-masa liburan dengan membantu para nelayan kampung yang melaut di sekitaran
Kepulauan Padaido dan Selat Sorenarva.
Selama masa sekolah di SMKN 01 Biak Timur, Mesak selalu merasa bahwa dia adalah anak yang beruntung. Di dalam segala kekurangan biaya dan keterbatasan, Mesak sangat terbantukan dengan adanya pemberian beasiswa selama tiga tahun bersekolah.
KULIAH SETELAH EMPAT TAHUN
Setelah menyelesaikan studi pada tahun 2003 di Biak, Mesak memilih pulang kampung dan bekerja sebagai petani membantu kedua kaka kandungnya di kampung. Terkadang, dirinya melaut untuk mencari ikan yang kemudian dijual ke kota Biak.
Mesak termasuk pemuda yang sangat aktif terlibat pada kegiatan-kegiatan di Gereja dan bakti sosial yang diadakan oleh pemerintah kampung seperti kegiatan pembersihan kampung.
Mesak tinggal di kampung Artaneng dan bekerja selama empat tahun sambil mengumpulkan biaya agar dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Pada tahun 2007, terdengar informasi melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Biak tentang kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Biak yang baru dibuka dan sedang menerima mahasiswa/i baru.
Dengan modal penasaran, dia berusaha mencari informasi. Mesak sangat beruntung karena salah satu sahabatnya, arakov Apner Kapisa, telah mendaftar dan menjadi mahasiswa di STKIP Biak. Dari informasi yang diberikan Apner, Mesak mendaftar dan memilih program studi Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN).
JALAN KE MATEMATIKA
Nampaknya jalan pendidikan Mesak telah ditentukan. Setelah hasil tes masuk STKIP Biak diumumkan, Mesak ternyata terpilih pada program studi Pendidikan Matematika dan bukan PKN.
Mesak lalu melengkapi semua persyaratan administrasi, membayar biaya studi, dan mulai mengikuti kuliah. Kuliah Matematika menyadarkan dirinya bahwa "..Matematika harus dipelajari dengan cara membuka buku Matematika setiap hari .."
Mesak bukanlah mahasiswa yang aktif pada organisasi Kampus. Tetapi, dirinya lebih banyak menghabiskan waktu bersama sahabatnya, Bejo Kapitaraw, untuk belajar dasar-dasar operasi Ms. Word pada komputer. Selain itu, dia senang memancing bersama para nelayan Soryar saat tidak ada kelas kuliah.
Di kampus, Mesak aktif mengikuti even-even tahunan, bakti sosial, dan belajar kelompok. Mesak menempuh studi selama enam tahun di STKIP Biak dan diwisuda pada tahun 2012.
PULANG KAMPUNG DAN MENGURUS IPEMAROS
Setelah Wisuda, Mesak memilih pulang ke kampung Artaneng.
Pada tahun 2013, Mesak ditunjuk oleh para senior IPEMAROS untuk menjadi Sekretaris Umum IPEMAROS membantu arakov Jimmi Karson Maniambo (Ketua) dan arakov Manu Kuwei (Wakil Ketua).
FOTO
Guru Mesak ketika menjadi penyanggah
Pada saat pelaksanaan Seminar Kemasyarakatan oleh Tim Suara Burumai
Tahun 2018 di Gedung Serbaguna Semuel, Jemaat GKI Baitania Artaneng
"saya termotivasi untuk mengurus IPEMAROS karena sa pikir, kitong mahasiswa yang masih aktif dan yang sudah wisuda harus bisa aktif mendorong pelajar dan mahasiswa untuk terus bersekolah. Wadah IPEMAROS ini perahu yang tepat!" Katanya
Bersama rekan-rekan pengurus dan anggota IPEMAROS ketika itu, mereka mulai menginisiasi upaya pencarian dana pembangunan asrama Roswari di kota Jayapura.
Mereka melakukan bazar sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2013 - 2014. Pada Januari tahun 2014, Guru D. Kuwei mengusulkan ke pengurus pelajar dan mahasiswa agar menyiapkan proposal dan menghadap Bupati Toni Tesar.
Menanggapi usulan tersebut, Mesak menyiapkan perhitungan RAP (Rancangan Anggaran Pembangunan) Asrama Roswari.
"waktu itu saya sempat berpikir..Ini kitong pergi ketemu orang China, kitong harus bawa sesuatu. Selain durian yang lagi musim atau ikan, kitong juga harus siapkan semacam proposal begitu" katanya
"jadi. sa siapkan RAP, semacam proposal singkat. Di proposal, sa susun RAP total anggaran tidak boleh lebih dari 50 juta karena ini orang China. Jadi sa bikin 35 juta dengan rincian, misalnya, 12 juta buat tiang, dan beberapa rincian harga khusus untuk balok, pasir, semen, batu bata, dan batu kali" Kenangnya
Puji Tuhan! Pertemuan dan proposal yang diajukan oleh pengurus dan anggota IPEMAROS diterima dengan baik oleh Bupati Toni Tesar.
TERLIBAT DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR JALAN DI KAMPUNG
Mesak merupakan anak muda yang sangat aktif dan paling diandalkan di kampung Artaneng karena kesetiaan, kerja keras dan komitmennya. Pada tahun 2015 - 2016, misalnya, Mesak aktif terlibat sebagai buruh dalam proyek Rencana Strategis Pembangunan Kampung (RESPEK). Ketika itu, sedang dilaksanakan pembangunan jalan setapak pada wilayah Vampini dan sekitaran lapangan Sepak Bola kampung.
FOTO
Guru Mesak di Varvadi, Muni Tanen, bersama pelajar dan mahasiswa
Ketika terlibat dalam upaya Konservasi yang dinisiasi oleh pelajar dan mahasiswa pada tahun 2017 lewat Gerakan Suara Burumai
MENJADI PENGURUS PAM DAN ANGGOTA SEKSI KEROHANIAN
Mesak telah tergabung dalam organisasi Persekutuan Anggota Muda (PAM) Jemaat GKI Baitania Artaneng sejak tahun 2008 - 2013. Ketika itu, yang menjadi ketua PAM adalah arakov Sergius Rumansara. Arakov Sergius menugaskan Mesak sebagai anggota Seksi Kerohanian.
Pada tahun 2014, kepengurusan PAM ditunjuk ulang dan mulai dipimpin oleh arakov Epson Rumansara. Pada masa kepemimpinan arakov Epson, Mesak ditunjuk kembali sebagai anggota Seksi Kerohanian. Sebagai anggota Seksi Kerohanian, Mesak bertugas untuk menyusun liturgi-liturgi ibadah, jadwal ibadah, jadwal pelayanan, dan lain-lain.
Mesak juga diberi kepercayaan untuk bersama-sama pengurus PAM melakukan upaya-upaya pencarian dana seperti bazar, mengurus ibadah-ibadah bersama dan kegiatan-kegiatan hari raya Gereja.
Panggilan untuk bekerja sebagai penata administrasi kerohanian terus berlanjut. Saat ini, Mesak diberi tanggung jawab penuh oleh Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) GKI Baitania Artaneng untuk mengurus administrasi Surat-Menyurat, Liturgi, Tata Ibadah, dan Materi Sidang-Sidang Jemaat membantu pelayan di Jemaat.
VIDEO
Arakov Mesak bersama tua-tua adat sedang mendiskusikan Sejarah Pekabaran Injil
Seminar Kedua tentang Sejarah Pekabaran Injil di Muni Tanen tahun 2024 bersama pelajar dan mahasiswa di Gedung Serbaguna Semuel, Jemaat GKI Baitania Artaneng
MENJADI KETUA BUMKAM
Pada tahun 2024, Mesak ditunjuk menjadi ketua Badan Usaha Milik Kampung (BUMKAM) oleh pemerintah Kampung Artaneng desa Roswari. Menjadi ketua BUMKAM, dirinya ditugaskan untuk mengaktifkan usaha masyarakat yang dapat memberikan penghasilan dan kesejahteraan bagi masyarakat desa.
Beberapa inisiasi yang diajukan Mesak pada Musyawarah Aparat dan Musyawarah Kampung adalah pembelian Viber Boat dan penanaman pisang. Pada tahun 2024, pemerintah Kampung membeli satu buah Viber Boat lalu disusul satu Viber Boat lainnya.
FOTO
Tampak Kantor Desa dan Pustu Kampung Artaneng
Kedua Viber Boat diperuntukan bagi masyarakat pada RK I di kampung Artaneng sebelah timur dan RK II di sebelah barat, Kopae. Viber Boat yang disiapkan BUMKAM dan digunakan oleh masyarakat, sangat diharapkan dapat memberikan pemasukan bagi masyarakat dan bagi kampung.
Selain itu, Mesak sering mengajak masyarakat untuk mulai berkebun pisang. Berdasarkan analisa pribadinya, banyak terjadi pencurian hasil kebun terutama pisang dan pinang. Jika semua masyarakat memiliki kebun pisang, mereka tidak akan saling mencuri.
Selain itu, Viber Boat yang dibeli dapat dimanfaatkan untuk mengangkot pisang ke pasar-pasar sentral di Biak. Jika tidak ada yang menanam pisang, maka Viber Boat tidak bisa diaktifkan kegunaannya mengingat tidak ada produk pertanian jangka pendek dan menengah yang perlu diangkut.
PANDANGAN PRIBADI TENTANG PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI KAMPUNG
Mesak memiliki beberapa pandangan pribadi terkait pembangunan infrastruktur di kampung Artaneng. Pembangunan infrastruktur kampung pada dasarnya meliputi perumahan, jalan-jalan setapak dan jembatan, ketersediaan air bersih, perbaikan dan perawatan fasilitas publik seperti gedung Sekolah, Rumah Sakit, Lapangan dan lain-lain.
FOTO
Tipe Rumah Panggung di Muni Tanen
Rumah milik arakov Benyamin Paai
Bagi Mesak, pembangunan perumahan harus diutamakan, tertata rapih, dan dibangun dengan anggaran yang sesuai agar tidak terjadi pemborosan.
"bahan material seperti kayu, pasir dan batu harus diambil dari kampung. Supaya pembangunan lebih cepat, efektif dan hemat anggaran. Selama ini kita beli bahan dari luar jadi ya..kitong kewalahan sendiri. Akhirnya, dalam satu tahun anggaran, rumah yang dibangun jumlahnya tidak banyak sementara di satu rumah masih terdapat dua keluarga yang diami" jelasnya.
Mesak berpendapat bahwa rumah yang akan, telah atau sedang dibangun harus juga menjadi tanggungjawab pemilik rumah.
Tidak hanya rumah, Mesak juga memberikan pandangannya tentang ketersediaan air bersih.
"Kita di Artaneng itu terlalu membuang-buang banyak air..boros. Harusnya tidak demikian. Setelah terpilih jadi ketua BUMKAM, saya usulkan agar kitong siapkan mata keran di setiap jalan-jalan gang. Kita pasang mata kran pada sambungan-sambungan pipa karet.
Kasihan, ada orang di rumah sebelah berteriak dan marah-marah karena air macet, sementara di jalan-jalan setapak kampung terdapat sambungan pipa-pipa karet yang bocor dengan luapan air yang mengalir sia-sia" Jelasnya.
Mesak juga menambahkan bahwa diperlukan pemahaman oleh masyarakat terhadap ketersediaan air, alat pendukung yang digunakan seperti selang, mata kran, dan orang-orang yang bekerja memperbaiki jika terdapat kerusakan.
Mereka perlu diberikan biaya atau tunjangan.
"Mungkin ke depan, kitong harus terapkan sistem bayar. Harganya tidak sebesar harga kota tetapi setidaknya bisa memberikan sedikit pemasukan sebagai modal perbaikan kerusakan alat dan biaya atau upah gula-kopi bagi teman-teman yang kerja saat terjadi kerusakan. Saya pikir, upaya penyadaran ini menjadi tanggung jawab daripada pengurus dan anggota IPEMAROS juga"
TENTANG SUMBER DAYA MANUSIA
Mesak merupakan sosok pemuda yang aktif membantu pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kampung Artaneng. Antara tahun 2017 - 2025, Mesak terlibat membantu upaya kampanye lingkungan dan konservasi yang dilakukan oleh tim Suara Burumai, membantu pelaksanaan seminar Kemasyarakatan dan aktif sebagai narasumber juga memotori upaya penulisan sejarah pekabaran Injil di Muni Tanen.
Saat ini, Mesak aktif membantu mengajar sebagai guru di SD YPK Baitania Artaneng. Mesak menjadi asisten para guru sekaligus assisten administrasi membantu beban kerja kepala Sekolah anenap Guru Marthen Kapisa dan guru-guru mata pelajaran yaitu anenap Guru Silas Rawai dan anenap Guru Sefnat Maniambo.
MEMBANGUN ARTANENG
Mesak selalu berpandangan bahwa untuk membangun kampung Artaneng, diperlukan sepuluh lulusan sarjana yang berkompeten di bidangnya. Sepuluh Lulusan sarjana asli Artaneng yang berkompeten akan mampu berhadapan dengan kelompok-kelompok keret, orang-perorang, kepentingan pimpinan pemerintah, Adat dan Gereja dengan berbagai karakter dan pandangan hidup yang unik-unik dan menyatukannya menjadi satu dalam upaya pelaksanaan pembangunan.
FOTO
Guru Mesak (baju merah) bersama Guru D. Kuwei (rambut putih), pengurus IPEMAROS a.n. Ketua Umum, Jimmi Karson Maniambo (baju Argentina), para pelajar, mahasiswa asal desa Roswari dan Rosbori, Majelis Jemaat, tua-tua adat dan masyarakat Kampung Rosbori saat kegiatan Kampanye studi lanjut di kampung Rosbori oleh IPEMAROS dan Tim Suara Burumai tahun 2018
Mesak adalah seorang anak muda yang sangat bangga menjadi orang Artaneng. Bagi Mesak, Pelajar dan Mahasiswa asal Artaneng harus selalu bangga dan berkata pada dirinya "risya arikainy Manatanen. Saya anak Artaneng!".
Dengan berkata demikian, pelajar dan mahasiswa asal Artaneng secara pribadi akan memiliki motivasi dan semangat hidup untuk mengingat kampung halamannya di setiap kesempatan, kerja dan kesibukan. Ingatan akan kampunglah yang akan melahirkan keinginan dan tindakan untuk kembali membangun kampung.
Penulis dan Editor
Siriwai Adrianus Varano Kuwei
**Ditulis berdasarkan hasil wawancara penulis secara langsung dengan arakov Mesak Maniambo pada hari Minggu tanggal 23 Maret tahun 2025 di Manokwari
Edisi Ketiga
Kisah Inspiratif Anak Artaneng:
Mesak Maniambo
IPEMAROS.doc
23 Maret 2025









Komentar