KABAR DARI AUBAMJIRUM: MENYONGSONG HUT YPK KE 63 TAHUN DI KAMPUNG AMBAIDIRU


 

Foto

Beberapa Pemuda dan Staff Guru 

sedang memasang bengkawan (atap) daun sagu pada Rumah Adat mini 

di halaman Sekolah Dasar YPK Imanuel Ambaidiru 


DEWAN GURU, PEMUDA DAN MASYARAKAT MENYIAPKAN LOKASI IBADAH

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) ke 63 tahun, dewan guru, orang tua murid, pemuda dan masyarakat memulai kerja bakti bersama di halaman Sekolah Dasar YPK Imanuel di kampung Ambaidiru. Kerja bakti bersama dilaksanakan pada hari ini, Rabu tanggal 05 Maret tahun 2025.

Foto

Siswa/i yang sedang bermain di halaman SD YPK Imanuel, Ambaidiru

Sebelumnya, telah disepakati bersama bahwa halaman Sekolah Dasar YPK Imanuel Ambaidiru akan digunakan sebagai tempat pelaksanaan Ibadah Perayaan HUT YPK Ke 63 tahun. Ibadah HUT YPK di kampung Ambaidiru akan dilaksanakan pada tanggal 08 bulan Maret tahun 2025.  

Berkaitan dengan Pelaksanaan ibadah dimaksud, dewan Guru Sekolah Dasar YPK Imanuel Aubamjirum (Ambaidiru) beserta PTHRG mulai menyiapkan lokasi Ibadah.

 

Foto

Salah satu pemuda sedang menambah daun sagu pada tulang atap

Agenda pertama yang dikerjakan pada lokasi ibadah adalah pembangunan Rumah Panggung Adat. Rumah Panggung Adat didirikan dengan bahan dasar kayu dan daun sagu sebagai atap rumah. Rumah Panggung Adat Mini didirikan pada sisi jalan menghadap halaman utama Sekolah Dasar YPK Imanuel Ambaidiru. 

Rumah Panggung Adat yang didirikan berukuran mini (kecil) dan cukup untuk satu orang karena rumah tersebut akan dijadikan sebagai mimbar bagi pelayan saat pelaksanaan ibadah HUT YPK ke 63 tahun. 

Pendirian rumah adat mini dipimpin langsung oleh para staff pengajar diantaranya: injae (Bapa) Yonatan Karubaba, injae (Bapa) Gabriel Taman, injae Manuel Kuwei, arakov vanya (saudari) Agustina Rawai. Para staff guru dibantu secara sukarela oleh delapan perwakilan pemuda, siswa/i dan masyarakat dari keempat kampung di Pegunungan Muman.

RUMAH ADAT SEBAGAI PENGINGAT DAN PEMERSATU KELUARGA

Menurut keterangan salah satu dewan guru “Rumah Adat didirikan sebagai pengingat bagi masyarakat, terutama peserta didik, tentang bentuk rumah adat suku asli Yawa Vunat dan tentang nilai kebersamaan sebagai keluarga dalam suku asli Yawa Vunat di pegunungan Muman”.

Pesan dimaksud tergambar dari Jumlah bengkawan (Atap) daun sagu yang dipakai untuk membuat rumah adat. Terdapat 24 bengkawan yang digunakan. Ke 24 bengkawan bermakna kebesaran dan kebersamaan tujuh marga yang hidup berdampingan pada empat kampung yaitu kampung induk Ambaidiru, kampung Numaman, kampung Manainin dan kampung Ramangkurani di pegunungan Muman, pedalaman Pulau Yapen. 

 

Foto

Pemasangan bagian penutup atas Rumah Adat

Selain itu, ke 24 bengkawan atap daun sagu merupakan hasil karya siswa/I SD YPK Imanuel Ambaidiru. Para siswa/I telah memanfaatkan waktu selama beberapa minggu terakhir untuk mengerjakan atap daun sagu.

 

Peliput/Pelapor:

Manuel Kuwei

Editor:

Siriwai Adrianus Varano Kuwei

Edisi 2:

Kabar dari Aubamjirum

 

IPEMAROS.doc

Komentar

Postingan Populer