DURIAN ARTANENG, RAMAIKAN PASAR RAKYAT DI KOMPLEKS TIPTOP BIAK, PASAR KOTA SERUI, DAN JAYAPURA
SUARA BURUMAI
Musim durian mengawali awal panen
para petani asal kampung Manatanen (Artaneng) desa Roswari distrik Yapen Utara,
Kabupaten Kepulauan Yapen, di tahun 2025. Durian memang menjadi salah satu
komoditas pertanian unggul yang dikembangkan oleh masyarakat Artaneng sejak
awal dekade 1950-an.
SEJARAH PANJANG DURIAN DAN PERTANIAN DI KAMPUNG ARTANENG (1900 – 2025)
Masyarakat Muni Tanen tergolong dalam kelompok masyarakat agraris yang telah bertani sebelum dekade 1900-an. Ketika itu, orang-orang Muni Tanen dikenal sebagai para penukar pisang, damar, burung kuning dan rotan. Keterangan tua-tua adat (kelahiran 1925 - 1960) menyebutkan bahwa nenek moyang asal Muni Tanen yang menempati daratan Tanen dan kampung tua Burumai sering melakukan pelayaran jauh dengan berdayung menggunakan perahu (nyoman) ke pasar Bosnik di Biak Timur antara tahun 1915 - 1920 untuk tujuan barter.
Dari perjalanan-perjalanan dagang ke Biak, beberapa tua-tua adat terutama para perempuan memperoleh kalung kerang yang ketika itu dipakai sebagai alat transaksi. Mereka juga aktif menukar hasil hutan seperti damar dan burung kuning dengan piring guci, beras, kain dan besi yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa ke kampung-kampung dagang pada pesisir utara Yapen seperti kampung Ariobu, Dore dan Yobi.
Aktivitas barter berjalan aktif pada periode 1900 - 1942. Pada tahun 1942, perang dunia II mulai bergejolak bersamaan dengan munculnya pergerakan Koreri melawan tentara Nippon Jepang di pesisir Dore dan Burumai. Keadaan ini berdampak pada perkembangan perdagangan dan pertanian hingga tahun 1946. Masyarakat Muni Tanen mulai kembali berkebun secara terbuka pada periode 1946 - 1954.
Pada dekade 1950-an, tanaman buah durian (durio zibethinus) diperkenalkan oleh para penyuluh pertanian Belanda dan beberapa siswa asal kampung Aubamjirum (Ambaidiru) yang menempuh studi pada sekolah ODO di kota Serui. Para penyuluh asal Aubamjirum memulai pelayanannya sebagai penyuluh pertanian di kampung Artaneng dengan pendekatan keluarga dan kerabat.
Para penyuluh memperkenalkan durian dengan kopi (coffea) sebagai komoditi utama kepada masyarakat Muni Tanen di pesisir utara Pulau Yapen dalam upaya pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Upaya Pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat ketika itu disponsori langsung oleh Ratu Wilhelmina. Upaya ini diawali dengan inisiasi pengembangan kopi oleh Zending D. C. A. Bout pada tahun 1928 di Serui dan di kampung Aubamjirum.
Selain durian, tanaman yang diperkenalkan oleh para penyuluh pertanian ketika itu adalah kapuk (ceiba pentandra), kakao (theobroma cacao), pinang (areca catechu), mangga (mangifera indica), cengkeh (syzygium aromaticum), pala (myristica) dan beberapa jenis pisang non-endemik pulau Yapen. Durian dan kapuk ditanam sebagai tanaman selingan jangka panjang yang mendampingi beberapa spot dan petakan-petakan lahan kopi dan kakao pada dataran rendah amiinde dan anokeruruk dimana terdapat lokasi-lokasi yang dikenal secara tradisional dengan sebutan kanenomandai, vampini, tovanavin, amburuje, ampandi, kampoa, tovasae, tindaubam serta beberapa lahan-lahan lainnya pada wilayah adat keret Sembai-Maniambo di sebelah barat sungai Manatanen.
PERKEBUNAN MENGAWALI BERDIRINYA KAMPUNG ARTANENG
Pengembangan tanaman durian, kopi, dan kakao merupakan cikal bakal berdirinya kampung Manatanen (Artaneng) saat ini. Dalam perjalanannya, pengembangan tanaman perkebunan khususnya durian, kopi, dan kakao sempat tertunda akibat tensi politik di pesisir Utara Yapen antara tahun 1955 – 1969.
Pada tahun 1969, setelah Penentuan Pendapat Rakyat, para petani di kampung Artaneng kembali mengusahakan tanaman yang telah ditinggalkan. Didukung lewat program Swasembada Pangan di era Presiden Soeharto antara tahun 1970 – 1980an, muncul sebuah inisiasi baru tentang pembukaan lahan-lahan kebun bagi masyarakat Muni Tanen oleh pemegang hak waris adat kampung Artaneng di Muni Tanen.
Kebijakan pembukaan lahan-lahan kebun baru ketika itu diinisiasi oleh (Alm) Andarias Kuwei selaku pemegang hak Waris Adat.
Pada era ini, lahan-lahan hutan basah di sepanjang pesisir Muni Tanen (-/+) 3.720 Meter yang dikenal dengan sebutan anyano Manatanen, Kopae, Tovanavin, Mana Kavayan, Sururei, Kanenomandae, Towasae, Manakat, Manuambai, Manueni, Kapevain, Mambanyarim, Vumae, Araraven, hingga Varavadi di batas adat sebelah timur dekat kampung Dore Manduni mulai dibuka dan dipetak-petakan sebagai kebun-kebun baru guna penanaman dan pengembangan tanaman jangka panjang.
Setiap keluarga dan keret diberi lahan tanah dengan status Hak Pakai berukuran lebar (-/+) 25 Meter dan panjang (-/+) 150 Meter untuk penanaman durian, pisang, coklat, rambutan, nangka, cempedak, siri, langsat dan kelapa. Perkebunan rakyat yang mulai dibuka pada lahan-lahan pakai tersebut menjadi kantor-kantor masyarakat Muni Tanen dan sentra produksi pertanian yang memberikan pendapatan, menjadi sumber pangan serta menunjang biaya hidup masyarakat di Muni Tanen.
LIKA-LIKU TRANSAKSI BUAH
DURIAN:
AKSES TRANSPORTASI, MUSIM KEMARAU DAN HAMA (1980 - 2014)
Antara tahun 1980 an hingga awal tahun 2002, perkembangan sentra-sentra perkebunan oleh masyarakat di Muni Tanen beberapa kali mengalami jatuh bangun dan kerugian. Tanaman yang dikembangkan sempat mengalami kekeringan pada saat musim kemarau panjang, sulitnya transportasi dan akses ke perkotaan seperti Biak dan serui untuk menjual hasil panen buah durian mengakibatkan banyak petani mengalami kerugian.
Masyarakat Muni Tanen mulai memperoleh angin segar pada tahun 2003 ketika akses jalan dari kota Serui menuju Yapen utara mulai diaktifkan dan ketika sebagian besar masyarakat mampu membeli motor tempel, perahu yonson dan viber boat sebagai alat transportasi. Dengan adanya akses jalan dan kepemilikan motor tempel, hasil panen buah durian dapat diangkot secara lebih baik dan dalam jumlah besar ke pasar-pasar rakyat di kota Biak dan Serui.
Antara tahun 2010 - 2014, tanaman kakao terserang hama penggerek buah yaitu sejenis serangga (conopomorpha cramerella) yang memakan kulit, isi dan bertelur pada buah kakao. Hama pada buah kakao secara langsung berdampak ke tanaman lain seperti buah durian yang diketahui oleh petani ketika musim panen. Sebagai upaya pengendalian perkembangan hama penggerek tanaman dan pengaruhnya terhadap hasil panen buah durian, kepala Kampung Manatanen Bapak (Alm) Naftali Sembai memberikan instruksi lisan yang berisi ajakan kepada masyarakat untuk menebang sebagian besar tanaman Kakao agar hama yang menyerang buah kakao tidak berpindah pada durian. Tindakan penebangan Kakao memberikan pengaruh yang baik terhadap kualitas buah durian yang dipanen.
Pada akhir tahun 2014, jalan trans Yapen sudah menembus kampung Artaneng. Dengan mudahnya alat transportasi dan hadirnya berbagai pilihan serta akses menuju pasar-pasar rakyat, masyarakat mulai memiliki kesempatan untuk menjual hasil pertanian.
DURIAN:TANAMAN YANG MENGHADIRKAN SAHABAT, UNTUNG-RUGI, PERDAMAIAN DAN MENGUMPULKAN KELUARGA SERTA PARA KERABAT
Sepanjang dua minggu terakhir ini, panen durian terus meningkat. Beberapa pengusaha motor tempel yang membantu masyarakat kampung mengatakan bahwa dalam dua minggu terakhir, mereka dapat mengangkut hasil panen buah durian dan para petani sebanyak dua hingga tiga kali perjalanan antar Artaneng-Biak mengarungi selat Soren Arva.
Pada hari-hari normal, angkutan laut bermotor tempel hanya sekali mengangkut penumpang (pergi-pulang) Artaneng ke Biak.
Para pengangkut durian (motorers) sudah tidak lagi memikirkan harga bahan bakar yang bisa mencapai Rp. 1000.000,- (satu juta rupiah) sekali perjalanan pergi – pulang menggunakan dua mesin motor tempel Yamaha 15 PK atau selingan Yamaha 40 dan 15 PK.
Para motorers berprinsip bahwa:
“kami akan sangat bersyukur ketika bisa mengantar mama-mama dorang punya jualan sampai dengan baik di Biak. Kalau perahu penuh, kami minta mereka untuk bersabar. Tunggu kami kembali. Kadang, satu kali muat hanya satu orang saja. Tiap bak, kitong kas harga 300 sampe 500 ribu rupiah”
Kata beberapa Motorers yang ditemui pewarta Suara Burumai di kampung Artaneng dan di Biak
Para motorers berangkat dari kampung Artaneng, Yapen Utara, ke pasar Tiptop di kota Biak pada jam 6.00 pagi dan kembali ke Yapen pada jam 9.00 Pagi setelah membongkar muatan. Mereka akan bolak balik sebanyak dua kali jika keadaan laut sedang teduh antara jam 11.00 siang – 15.00 sore.
Selain perahu motor tempel (motor
Yonson), beberapa petani juga mengangkut jualannya ke kota Jayapura. Mereka
mendaftar sebagai penumpang pada kapal Sabuk 100 yang beroperasi sejak tahun 2024 di pesisir
Yapen Utara. Kapal Sabuk 100 memberikan kesempatan bagi 50 Petani perkampung sepanjang musim panen durian awal tahun 2025.
Kapal Sabuk 100 berlabuh di Pelabuhan Pesisir Warmonae, kampung Tindaret. Di Warmonae, Para petani mengangkut hasil panen
buah durian menggunakan perahu ke kapal lalu mereka berlayar bersama KMP Sabuk 100 ke kota Serui. Tidak jarang, beberapa petani durian memilih langsung ke Serui lewat jalan Trans Yapen menggunakan angkot. Tiba di Pelabuhan Serui, mereka memindahkan buah durian ke KMP Sabuk 100 lalu berlayar menuju kota Jayapura untuk berjualan.
Selain KMP Sabuk 100, beberapa petani buah durian memilih Kapal PELNI seperti Ciremai dan Dorolonda untuk mengangkut buah durian ke kota Jayapura.
Para petani durian juga sangat terbantukan dengan kendaraan roda empat (angkutan pedesaan) yang berlalu lalang membawa hasil panen durian melalui jalan Trans Yapen. Akses melalui jalan trans Yapen ke kota Serui saat ini sangat aktif. Para supir dapat mengangkut para petani dengan hasil panen durian sebanyak lebih dari tiga kali perjalanan dalam sehari. Satu kendaraan roda empat Mitsubishi Colt tipe L 300 dapat menampung lebih dari 2.450 kg hasil buah durian.
Ongkos kendaraan bervariasi sesuai jumlah buah durian dan jualan lainnya yang diangkut. Pada hari-hari normal, ongkos untuk satu penumpang (pergi-pulang) tanpa jualan adalah sebesar Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) bagi pelajar, mahasiswa dan anak-anak, sedangkan Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) bagi penumpang dewasa. Pada saat musim durian, ongkos kendaraan bagi petani yang membawa panen banyak atau mencarter angkot berkisar antara (-/+) Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) sampai Rp. 1000.000,- (satu juta rupiah) sekali perjalanan.
Selain dijual, panen durian menjadi momen merajut kekeluargaan. Banyak kunjungan dari para kerabat, sahabat, teman dan orang-orang yang tidak dikenal. Mereka berdatangan ke kampung Artaneng menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat hanya untuk makan buah durian sepuasnya, bercengkrama dengan keluarga dan masyarakat kampung, lalu berpulang kembali ke kota.
HARGA BUAH DURIAN ANJLOK DI PASAR SERUI, SEIMBANG DI PASAR BIAK, DAN TINGGI DI KOTA JAYAPURA
Para penjual durian di pasar Serui, Biak dan Jayapura, tidak hanya berasal dari kampung Artaneng saja melainkan beberapa kampung di pulau Yapen seperti Aubamjirum dan kampung-kampung di pesisir Utara Pulau Yapen; diantaranya petani durian dari kampung Tindaret, Yobi, Dore Manduni, Kerio, Rosbori, Ariobu, Karawi, Kaonda, dan Sambarawai serta beberapa pedagang asal Biak yang membeli buah durian dari para petani dan menjualnya kembali.
Durian dijual dengan kisaran harga antara Rp. 20.000,- (dua puluh ribu) hingga Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) berdasarkan ukuran buah dan jumlah buah durian terbaik yang dipilih sebanyak (-/+) 4 – 5 buah. Informasi dari pasar rakyat di kota Serui menyebutkan bahwa harga durian turun menjadi Rp. 2000,- (dua ribu rupiah) per buah.
Sementara itu, beberapa petani buah durian yang berjualan di kota Biak harus mengecer durian dengan kisaran harga Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu) untuk (-/+) 5 – 6 buah pada minggu kedua dan ketiga bulan Februari tahun 2025.
Berbeda dengan Serui dan Biak, harga durian di kota Jayapura masih dapat diatur secara tetap sesuai dengan jumlah buah dan harga yang diharapkan. Meskipun demikian, para petani harus berbagi hasil pendapatan dengan biaya transportasi dan lain-lain selama berada di kota Jayapura.
Tidak jarang, beberapa petani buah durian yang meraup untung besar selama berjualan di Jayapura, mereka berani untuk membeli tiket pesawat sebagai alternatif transportasi pulang kembali ke kota Biak dan Serui.
Berdasarkan keterangan para petani yang berjualan di kota Jayapura, diperlukan dua keranjang durian untuk menghasilkan uang yang cukup agar bisa membeli tiket pesawat sebagai transportasi pilihan perjalanan kembali ke Biak atau Serui.
Pelapor
Yosias Kuwei
Nikson Aiwui
Stevanus Aiwui
Sopater Kapisa
Dokumentasi (Foto)
Yosias Kuwei
Dari koleksi foto (Alm) Alfons Sembai (foto pesisir Kampung Manatanen, tahun 2008)
Editor Berita dan Pemimpin Redaksi
Siriwai Adrianus Varano Kuwei
IPEMAROS.doc



.jpg)








Komentar