CINTA MANA YANG KAU DUSTAKAN?

Foto

Ugarakaki, di Wampini, Kampung Manatanen

 

SUARA BURUMAI

Hari Kasih Sayang telah berlalu pada 14 Februari kemarin. Hari Kasih Sayang identik dengan pemberian cokelat dan bunga yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi, anggota organisasi kemasyarakatan, antar beberapa anggota, pimpinan pada lembaga dan institusi resmi pemerintah dengan masyarakat umum. 

Hari Kasih Sayang atau Valentine dirayakan dengan berbagai bentuk kegiatan, ungkapan dan ekspresi yang diharapkan dapat menciptakan keharmonisan bagi masing-masing orang yang merayakannya pada setiap komunitas berbeda di dunia.

Dilansir dari laman Wikipedia.com, hari Valentine atau hari Kasih Sayang identik dengan cinta yang pada dasarnya hanyalah sentimen-sentimen publik. Setimen-sentimen cinta mengiringi kisah yang melegenda tentang beberapa Tokoh Kristen (Katolik) seperti Santo (St) Valentinus dan Santo (St) George. Terdapat Riwayat hidup singkat (vita) Santo Valentinus yang mencatat tentang imannya ketika dihadapkan kepada Kaisar Claudius pada tahun 280. 

Ketika itu, Santo Valentinus dipaksa untuk menyangkali Yesus Kristus dihadapan Kaisar tetapi Santo Valentinus menolak untuk menyangkali Yesus Kristus. Iman Santo Valentinus kepada Kristus adalah kasih sayang yang berasal dan terbatas dari diri manusia kepada Tuhan, tetapi imannya telah menginspirasi banyak orang di seluruh dunia untuk saling mengasihi sama seperti Cinta Yesus Kristus kepada para sahabatnya.

Terlepas dari kisah Santo Valentinus, apakah orang-orang di Papua, terutama masyarakat adat juga telah mengenal “kasih sayang”? Bagaimana konsep kasih sayang dalam kehidupan masyarakat adat? 

Tulisan ini mengulas sepenggal informasi tentang konsep kasih sayang dalam masyarakat Yawa, terutama penutur Bahasa Yawa Mora di kampung Artaneng, Yapen Utara.

KONSEP CINTA MASYARAKAT YAWA

Berdasarkan kosa kata Bahasa Yawa, Masyarakat Yawa Mora mengenal Kasih Sayang dalam empat Konsep. Keempat konsep berasal dari pengalaman hidup dan objek dimana seorang Yawa bekerja dan berinteraksi; meliputi interaksinya dengan Tuhan, Alam Semesta, Sesama Manusia dan Alam Semesta (Komunitas) dimana seorang Yawa berada.

Keempat Konsep masyarakat Yawa tentang Cinta adalah mun, min, men, dan man. Keempat kosakata merupakan ungkapan-ungkapan kata yang dituturkan pada frasa-frasa dalam komunikasi sehari-hari oleh masyarakat Yawa Mora di Muni Tanen (Artaneng). Selain itu, keempat kosakata juga dapat ditemukan dalam lirik-lirik lagu daerah berbahasa Yawa. Beberapa kosakata dan frasa bahasa Yawa dimana keempat kosakata dipakai, diantaranya:

1.       amisy pamunye

2.       rinaemen

3.       mineso

4.       mana akoe



                                                        

Kosakata mun merupakan fonem yang merujuk pada cinta yang berasal dari Tuhan. Dalam kebudayaan Yawa, seorang Yawa tidak bisa mengatakan “aku mencintai Tuhan”, sebaliknya “Tuhanlah yang mencintai aku sehingga aku ada”. Sedangkan kosakata min merujuk pada kasih sayang universal dalam bentuk konkret yaitu kasih sayang yang dapat dilihat, dikontrol dan dirasakan. Kata min merujuk pada kehidupan di bumi, alam semesta, dan manusia.

Kosakata men berarti cinta atau rasa antar sesama manusia. Kata men sendiri dapat berarti memikirkan seseorang atau sesuatu karena adanya rasa yang mendalam dan bercampur aduk antara dua subyek yang saling berinteraksi seperti rasa Bahagia, marah, sedih, dan lain-lain. Kosakata man merujuk pada kasih sayang berbentuk konkrit yang tersedia di alam semesta seperti air, pohon, mahkluk hidup, dan lain-lain. Kosakata man juga dapat diungkapkan berdasarkan jumlah dan dapat berupa pengertian yang mendalam.



Dengan demikian, Kasih Sayang dalam praktik kebudayaan Yawa meliputi empat elemen kehidupan yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa, Alam Semesta yang diciptakan Nya, sesama manusia, dan alam semesta dimana interaksi hidup individu berlangsung, dapat meliputi kebun, tempat bekerja, bermain, belajar dan lain-lain. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu, semut dan jangkrik yang kecil sekalipun, mengalami dan merasakan Kasih Sayang selama perjalanan hidupnya. Kita tidak terlepas dari kasih sayang Tuhan, alam semesta, sesama manusia dan tempat dimana kita bekerja dan beraktivitas. 

Oleh karena itu, mungkin demikian, "jika diantara kita pernah mengeluh lapar dan susah? Bukankah Kasih Sayang adalah lebih besar dari kelaparan dan susah itu? Bukankah Kasih Sayang ada dimana-dimana?. 

Jika kita mengatakan bahwa kita tidak bisa memperoleh, melakukan, dan mencapai sesuatu maka "kita pada dasarnya sedang menyangkali Cinta yang telah ada".

Cinta manakah yang ingin kau dustakan?

 

Penulis Artikel:

Siriwai Adrianus Varano Kuwei

Beberapa tulisan lainnya yang bisa dibaca:

TENAM: Prinsip-Prinsip Kehidupan Masyarakat Yawa, Papua Rumah Kolaborasi, Andi Publisher 2022

 

IPEMAROS.doc 2025




Komentar

Postingan Populer